Refleksi Milad dan Tantangan di Tengah Pragmatisme Zaman
Oleh: Agus Setiyono
November selalu menjadi bulan istimewa bagi keluarga besar Muhammadiyah. Di bulan inilah, seratus tiga belas tahun silam, Kiai Ahmad Dahlan memulai ikhtiar besar yang kelak dikenal sebagai Gerakan Islam Berkemajuan. Sebuah gerakan yang tidak hanya mengubah wajah umat Islam Indonesia, tetapi juga menorehkan bab penting dalam sejarah kebangsaan.
Kini, Muhammadiyah memasuki usia 113 tahun — usia yang bisa dikatakan “sepuh” dalam hitungan organisasi. Namun, di tengah segala perubahan sosial, politik, dan budaya yang terus berputar cepat, pertanyaannya menjadi relevan:
Apakah Muhammadiyah masih menyalakan obor pencerahan sebagaimana dahulu ia dinyalakan?
Makna Milad: Antara Refleksi dan Reposisi
Milad sejatinya bukan sekadar perayaan seremonial. Ia adalah momentum reflektif — sejenak menoleh ke belakang untuk menata langkah ke depan.
Dalam milad ke-113 tahun ini, Muhammadiyah mengangkat tema besar:
“Memajukan Kesejahteraan Bangsa.”
Tema ini mencerminkan visi kemanusiaan universal yang menjadi ruh dakwah Muhammadiyah: menghadirkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin, Islam yang bekerja nyata untuk kesejahteraan sosial, pendidikan, dan kesehatan umat.
Namun, di tengah realitas bangsa yang semakin pragmatis, tantangan sesungguhnya justru muncul dari dalam: bagaimana menjaga agar gerakan Islam ini tetap berorientasi nilai, bukan sekadar hasil; tetap berlandaskan dakwah dan tajdid, bukan sekadar proyek dan angka.
Menghindari Pragmatisme Buta
Muhammadiyah lahir dari keikhlasan spiritual dan keberanian intelektual. Kiai Dahlan menolak taklid dan menantang kebekuan berpikir pada zamannya.
Namun, seratus tahun kemudian, tantangan yang sama datang dalam bentuk baru: pragmatisme buta.
Pragmatisme yang dimaksud bukanlah kepraktisan dalam beramal, melainkan cara berpikir yang menukar idealisme dengan kepentingan sesaat. Di sinilah pentingnya menjaga jarak nilai — agar gerakan ini tidak larut dalam arus kepentingan duniawi yang dapat menumpulkan nurani sosial dan tajdid keagamaan.
Sebab sejatinya, “kemajuan” yang menjadi jargon Muhammadiyah tidak pernah berhenti pada pembangunan fisik semata. Kemajuan adalah soal peradaban: tentang bagaimana iman, ilmu, dan amal bekerja bersama melahirkan masyarakat yang adil, berilmu, dan berakhlak.
Kesejahteraan yang Mencerahkan
Ketika Muhammadiyah berbicara tentang kesejahteraan bangsa, itu berarti kesejahteraan yang mencerahkan, bukan sekadar menyejahterakan.
Ia menolak pola pikir pembangunan yang materialistik dan mengabaikan dimensi ruhani.
Kesejahteraan bagi Muhammadiyah adalah perpaduan antara spiritualitas dan sosialitas — antara iman yang kokoh dan keadilan sosial yang nyata.
Dalam konteks inilah, amal usaha Muhammadiyah menjadi bukti nyata. Sekolah, universitas, rumah sakit, dan lembaga sosialnya bukan sekadar lembaga administratif, tetapi manifestasi nilai Islam dalam tindakan.
Namun, agar amal itu tetap bernilai dakwah, ruh ikhlas dan kesadaran tajdid harus terus dijaga.
Menjaga Api Pencerahan
Seratus tiga belas tahun adalah perjalanan panjang. Banyak organisasi lahir dan tenggelam, tetapi Muhammadiyah tetap tegak karena memegang prinsip: beramal karena Allah, berpikir karena ilmu, dan berjuang karena umat.
Namun, tantangan zaman kini menuntut lebih: menjaga agar gerakan ini tidak hanya bertahan, tetapi terus menjadi sumber inspirasi moral dan intelektual bagi bangsa.
Selama masih ada satu jiwa Muhammadiyah yang berpikir jernih di tengah kabut kepentingan,selama masih ada satu tangan yang ikhlas bekerja tanpa pamrih, maka Muhammadiyah akan tetap muda, muda dalam semangat, tajam dalam berpikir, dan kokoh dalam prinsip.
Dan mungkin, justru di usia 113 tahun inilah, Muhammadiyah sedang membuktikan bahwa yang tua bisa tetap berkemajuan, selama ia tidak kehilangan arah dan sumber cahayanya.
🕊 “Islam berkemajuan bukan sekadar slogan, tetapi jalan panjang menuju kesejahteraan yang berkeadaban.”
Wallahu a’lam bish shawab,














