PDMBUNGO.OR.ID, YOGYAKARTA —Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Busyro Muqoddas, menekankan pentingnya menggali dan meneladani nilai-nilai perjuangan KH. Ahmad Dahlan, khususnya dalam memahami dan mengamalkan aspek ideologi, politik, serta organisasi (Ideopolitor) Muhammadiyah secara menyeluruh dan mendalam.
Pesan ini disampaikan Busyro saat mengisi Pengajian Rutin Bulanan Karyawan PP Muhammadiyah di Yogyakarta, Sabtu (5/7). Dalam kajiannya, ia mengajak seluruh warga Muhammadiyah untuk menjaga warisan pemikiran KH. Ahmad Dahlan yang sarat nilai spiritual, ketulusan niat, serta komitmen terhadap keberpihakan pada kepentingan umat.
Ideologi Muhammadiyah: Pondasi Integritas dan Keikhlasan
Busyro menguraikan bahwa ideologi Muhammadiyah terbagi dalam dua cakupan besar: ideologi internal organisasi dan ideologi kebangsaan. Dalam konteks Muhammadiyah, ideologi meliputi Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup (MKCH), Khittah, serta Kepribadian Muhammadiyah yang disarikan dari Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan bimbingan Majelis Tarjih.
“Selama lebih dari satu abad, Muhammadiyah terus teguh dalam prinsip ideologisnya, walau dihadapkan pada berbagai tantangan. Semua itu dijalani dengan penuh keikhlasan dan proses yang bertahap,” ujar Busyro.
Di sisi lain, ideologi negara, yaitu Pancasila, menurutnya tidak bertentangan dengan nilai-nilai keislaman maupun prinsip Muhammadiyah. Bahkan, tokoh-tokoh Muhammadiyah memiliki kontribusi besar dalam proses perumusan dasar negara tersebut.
“Bicara tentang Pancasila, kita tak bisa menutup mata dari peran penting para tokoh Muhammadiyah sebagai negarawan yang berjiwa pemimpin dan pembela rakyat,” tambahnya.
Politik Muhammadiyah: Wakaf Politik untuk Kepentingan Umat
Dalam pandangan Busyro, politik harus ditempatkan sebagai alat pengabdian kepada rakyat, bukan semata alat kekuasaan. Ia menyebut bahwa sumbangan besar Islam kepada bangsa ini adalah konsep “wakaf politik”, sebagaimana pernah ditegaskan oleh almarhum Mayjen TNI Alamsyah Ratu Perwiranegara saat menjabat Menteri Agama.
“Negara tak akan berarti tanpa kehadiran rakyat. Karena itu, politik harus berpihak pada rakyat, dan Muhammadiyah hadir sebagai kekuatan moral yang konsisten memperjuangkan nilai-nilai keadilan,” tegasnya.
Organisasi Muhammadiyah: Menjadi Wadah Rahmat dan Spirit Al-Ma’un
Menurut Busyro, organisasi merupakan alat untuk mengelola gerakan dengan efisien dan berkelanjutan. Jika dibangun di atas dasar ideologi dan politik yang sehat, organisasi akan mampu menciptakan hubungan yang harmonis baik dengan Tuhan (hablum minallah) maupun dengan sesama (hablum minannas).
“Muhammadiyah berdiri sebagai organisasi Islam yang membawa rahmat, menyebar manfaat, dan menghidupkan semangat Al-Ma’un melalui kerja nyata di tengah masyarakat,” jelasnya.
Keteladanan KH. Ahmad Dahlan: Dakwah Penuh Keikhlasan dan Kesantunan
Mengakhiri tausiyahnya, Busyro mengisahkan kembali pengalaman saat aktif di Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM). Ia menyebut sebuah prinsip yang diajarkan oleh para instruktur saat itu, yaitu: “Sungguh-sungguh tapi tidak terlalu serius.” Sebuah pendekatan yang menggambarkan metode dakwah KH. Ahmad Dahlan yang santun, bersahabat, namun tetap tegas dalam prinsip.
KH. Ahmad Dahlan, lanjutnya, menghadapi banyak penolakan dengan ketenangan dan kesabaran, sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah ayat 109. Ia tidak larut dalam kekecewaan, melainkan terus melangkah penuh kasih dan keikhlasan.
Busyro menegaskan pentingnya mengamalkan pesan KH. Ahmad Dahlan yang legendaris: “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.” Sebuah nasihat mendalam agar warga persyarikatan tidak menjadikan organisasi sebagai sarana mencari keuntungan pribadi.
“Tugas kita adalah menjaga dan membesarkan Muhammadiyah melalui amal usaha, organisasi otonom, serta majelis-majelis yang ada. Di situlah bentuk penghormatan kita terhadap perjuangan para pendiri dan ulama,” tutup Busyro.
— (Wafiq)















