Gerhana bulan adalah peristiwa langit yang senyap namun penuh isyarat. Fenomena alam yang sesungguhnya telah ada sejak zaman purba, bahkan Islam lewat sabda Rasulullah ﷺ mengajarkan kita untuk meresponsnya dengan sholat khusuf. Bukan sekadar ritual, melainkan momentum ibadah, zikir, dan refleksi.
Al-Qur’an menyebut tanda-tanda kosmik semacam ini sebagai ayat-ayat kauniah tanda kebesaran Allah yang terbentang di jagat raya. Allah berfirman:
“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah kamu sujud kepada matahari maupun kepada bulan, tetapi sujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu benar-benar menyembah-Nya.”(QS. Fushshilat: 37).
Gerhana adalah peringatan sekaligus pengingat, bahwa di balik cahaya ada bayangan, dan di balik kegelapan ada pelajaran. Sayangnya, momen ini sering hanya dijadikan tontonan, bukan tuntunan. Gawai sibuk menyorot langit, media sosial penuh unggahan cahaya, tetapi hati jarang menunduk dalam sujud.
Padahal, gerhana adalah cermin bagi kehidupan negeri ini. Bulan yang biasanya terang tiba-tiba meredup, sebagaimana bangsa yang dahulu menjanjikan kini terperangkap dalam bayangan. Cahaya kebenaran tak pernah hilang, hanya tertutup oleh nafsu, kepentingan, dan kerakusan manusia. Negeri ini pun terasa tidak baik-baik saja politik yang gaduh, moral yang keruh, dan solidaritas sosial yang kian rapuh.
Rasulullah ﷺ memberi teladan: ketika terjadi gerhana, beliau tidak sibuk menatap langit, tetapi segera menunduk dalam sujud panjang. Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari-Muslim, beliau bersabda:
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak akan mengalami gerhana karena kematian atau kelahiran seseorang. Maka apabila kamu melihatnya, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, dirikanlah sholat, dan bersedekahlah.”
Hadits ini menegaskan, gerhana adalah ruang introspeksi, bukan sekadar tontonan kosmik. Inilah ibrah pembelajaran: setiap kegelapan adalah kesempatan untuk kembali mencari terang.
Dalam konteks kebangsaan, PP Muhammadiyah telah lama menekankan pentingnya membaca tanda-tanda zaman. Dakwah tidak boleh berhenti pada kata, tetapi harus hidup dalam perbuatan. Dakwah bil-hal menjadi napas gerakan Persyarikatan: menghadirkan pendidikan, kesehatan, amal sosial, dan pembelaan terhadap kaum lemah. Semua itu adalah bentuk nyata dari membaca ayat-ayat kauniah dan menterjemahkannya dalam amal saleh.
Gerhana bulan mengingatkan bahwa kegelapan hanyalah sementara. Begitu bayangan pergi, cahaya akan kembali. Demikian pula negeri ini: selama masih ada umat yang menjadikan fenomena alam bukan sekadar tontonan, melainkan tuntunan; selama masih ada gerakan dakwah yang menghadirkan pencerahan dalam amal nyata, maka terang akan kembali menyinari bangsa.
Semoga saat rembulan pulih dengan cahayanya, hati kita pun ikut kembali jernih agar negeri yang kini tidak baik-baik saja menemukan jalannya menuju terang.














